Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Abad Paling Menentukan Bagi Semua Umat Beragama


Abad kelima belas dan keenam belas adalah abad yang paling menentukan bagi semua umat beragama.

Periode paling krusial terutama bagi Kristen Barat. Bukan hanya berhasil mengejar ketertinggalan dari kebudayaan-kebudaya-an lain dalam Oikumene, tetapi bahkan nyaris menaklukannya.

Dua abad ini telah menjadi saksi bagi para Renaisans Italia yang dengan cepat menyebar ke Eropa Utara, serta penemuan 'dunia baru' dan awal revolusi ilmiah yang menimbulkan pengaruh sangat menentukan bagi perjalanan nasib seluruh dunia.

Marshall G. S Hodgson dalam karyanya yang berjudul The Venture of Islam, Conscience and History in a World Civilization, mengatakan bahwa kita tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang periode ini untuk membuat generalisasi yang begitu meluas. Hal yang sama juga diungkapkan Karen Armstrong dalam buku 'A History of God'.

Pada akhir abad keenam belas


Barat mulai menciptakan bentuk peradaban yang sangat berbeda. Periode ini merupakan sebuah masa transisi dan, karenanya, ditandai oleh kecemasan dan berbagai prestasi. Hal ini terlihat dengan jelas dalam konsepsi Barat tentang Tuhan pada periode tersebut. Di tengah keberhasilan sekuler mereka, orang Barat semakin menaruh perhatian pada imam melebihi masa-masa sebelumnya.

Kaum awam merasa tidak puas terhadap bentuk agama Abad pertengahan yang tak mampu lagi memenuhi kebutuhan mereka di dunia yang baru. Para reformis menyuarakan kegelisahan ini dan menemukan cara baru dalam memandang Tuhan dan penyelamatan. Akibatnya Eropa terpecah ke dalam dua kubu yang saling bertikai (Katolik dan Protestan) yang hingga kini tak pernah benar-benar bebas dari kebencian dan saling curiga satu sama lain.

Periode ini juga merupakan periode krisis bagi orang Yunani, Yahudi, dan Muslim. Pada tahun 1453, Turki Usmani menaklukkan ibu kota Kristen Konstantinopel dan menghancurkan kekaisaran Byzantium. Setelah kejadian itu, Kristen Rusia melanjutkan tradisi dan spiritualitas yang di improvisasi oleh Yunani. Januari 1492, saat Christopher Columbus menemukan 'Dunia Baru', Ferdinand dan Isabella menaklukkan Grenada di Spanyol, daerah kekuasaan Muslim yang terakhir di Eropa: kaum Muslimin kemudian diusir dari Semenanjung Iberia, yang telah menjadi tanah air mereka selama 800 tahun.

Periode ini juga merupakan tahun-tahun yang sulit bagi umat Muslim di berbagai belahan dunia. Abad-abad yang menandai keberhasilan invasi kaum Mongol telah mengakibatkan—mungkin secara tak terhindarkan—timbulnya 'konservatif baru', karena orang-orang berupaya untuk menemukan kembali apa yang telah hilang. Pada abad ke-15, kaum ulama dari madrasah-madrasah Sunni menyatakan bahwa "Pintu ijtihad telah tertutup". Sejak saat itu kaum Muslim harus tunduk (taqlid) pada pemikiran para Mujtahid masa lalu, khususnya yang menyangkut syariat, hukum Islam.

Tampaknya tak akan ada lagi gagasan-gagasan Inovatif tentang Tuhan, atau tentang apapun, dalam iklim konservatif ini. Kecenderungan konservatif telah muncul ke permukaan selama abad ke-14 dalam diri para ahli syariat, seperti Ahmad ibn Taymiyah dari Damaskus dan muridnya Ibn Al-Qayim Al-Jawziyah.

Jika kaum mistik dan filosofi terdahulu, semacam Al-Farabi dan Ibn Al-Arabi, secara sadar membukakan bidang pemikiran baru, periode ini justru menghidupkan dan menegaskan kembali tema-tema lama. Ini sulit untuk diapresiasi oleh Barat, karena para peneliti telah lama mengabaikan fenomena Islam yang lebih modern ini, dan juga karena para filosof dan penyair berharap pikiran para pembacanya dipenuhi oleh citra dan ide-ide masa lalu.

Sumber :

The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization - Marshall G.S Hodgson

Posting Komentar untuk "Abad Paling Menentukan Bagi Semua Umat Beragama"