Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Intifadah: Sebuah Perlawanan Rakyat


Kata Intifadah berasal dari bahasa Arab yang artinya "perlawanan" atau "pemberontakan" terhadap kekuatan yang mendominasi secara politik. Istilah ini populer di masa modern bersamaan dengan meningkatnya rasa tidak suka masyarakat terhadap kehadiran pengaruh asing (barat) atau pemerintahan monarki di negaranya.

Intifadah pertama masyarakat Arab dalam upaya perjuangan kemerdekaan melawan bangsa Eropa pecah di Sahara Barat, sebuah wilayah di selatan Maroko yang dikuasai oleh Spanyol. Organisasi bernama Harakat Tharir ("Front Pembebasan") yang didirikan oleh Muhammad Bassiri, seorang jurnalis dan aktivis nasionalisme masyarakat Sahara Barat, menggelar aksi damai menuntut pemerintah Kolonial Spanyol agar memberikan self-determination dan kemerdekaan penuh terhadap Republik Sahrawi sesegera mungkin.

Demostrasi yang dihadiri ribuan warga sipil memenuhi Laayoune, Ibukota Spanyol Sahara. Namun, aparat kolonial justru mengambil sikap represif terhadap aksi demonstrasi dengan menangkap para aktor perlawanan termasuk Bassiri yang lalu tewas dibunuh oleh aparat kolonial Spanyol di dalam tahanan.

Opsi brutal yang diambil pihak kolonial ternyata keliru: masyarakat yang marah melempari aparat dengan batu dan menciptakan kerusuhan di seluruh penjuru negeri. Kerusuhan itu menewaskan 11 warga sipil dan dianggap sebagai titik dimulainya perlawanan bangsa Sahrawi atas tanah air mereka dengan nama "Zemla Intifada".

Pada tahun 2005, perlawanan bangsa Sahrawi kembali meningkat dengan digelarnta intifadah ke-2 yang bernama "Independence Intifada".

Setelah pendudukan sebagian besar wilayah Sahara Barat dan keseluruhan daerah pesisir hingga laut teritorial yang kaya akan sumber daya alam, intensitas konflik selalu terjadi antara Kerajaan Maroko dengan berbagai aliansi politik pro-kemerdekaan yang sudah mengadakan perlawanan rutin berskala kecil sejak tahun 1999.

Intifadah ini dipicu oleh rencana pemerintah Maroko untuk memindahkan para tawanan dari kota Laayoune menuju ke Agadir yang berada di wilayah utama Maroko.

Penolakan masyarakat Sahrawi terhadap rencana tersebut, menjelma menjadi aksi unjuk rasa hampir di seluruh kota besar Maroko. Pemerintah mengambil sikap tegas dengan menangkap para politikus Sahrawi dan mahasiswa, sedangkan masyarakat semakin anarkis dengan dipersenjatai batu atau bom molotov.

Dunia internasional mengecam sikap yang diambil oleh pihak Maroko dalam menangani kekacauan karena terkesan menutupi pelanggaran HAM yang terjadi.

Beberapa wartawan asing mengaku mendapatkan persekusi dari aparat lokal saat meliput situasi kerusuhan dan adanya upaya membungkam stasiun berita hingga situs internet selama kerusuhan.

Intifadah kedua masyarakat Sahrawi berlangsung selama kurang lebih 6 bulan, dan menewaskan seorang warga sipil bernama Hamdi Lembarki.

Perlawanan Syi'ah di Arab Saudi

Masyarakat Syi'ah yang menjadi mayoritas di Kota Qatif, Arab Saudi pernah melancarkan sebuah intifadah melawan pemerintah kerajaan. Rasa muak akibat diskriminasi agama sebenarnya sudah dirasakan oleh masyarakat Syi'ah Arab Saudi semenjak penyatuan Jazirah Arab yang dipimpin oleh Ibnu Saud.

Mereka tidak mendapatkan hak atas kesejahteraan sosial yang sama seperti yang didapatkan oleh masyarakat Sunni, bahkan upah pekerja dan pembagian kemakmuran dari hasil eksploitasi minyak dan gas alam, sering kali jauh lebih rendah dari yang diperoleh masyarakat Sunni.

Terinspirasi dengan kemenangan kaum Syi'ah dalam Revolusi Islam Iran tahun 1979, masyarakat Syi'ah Arab Saudi menggelar unjuk rasa dan perlawanan rakyat.

Aksi pertama dimulai pada bulan November, di mana para penduduk tetap merayakan Hari Asyura (peringatan gugurnya Hussein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW dalam Pertempuran Karbala) yang sebenarnya dilarang oleh otoritas Arab Saudi. Bentrokan pecah hingga bulan Desember dan menyebabkan sekitar 24 orang tewas, serta penangkapan besar-besaran terhadap tokoh politik Syi'ah oleh pemerintah Arab Saudi.

Intifadah 1 & 2 Palestina

Intifadah di Palestina dalam melawan pendudukan Israel mungkin adalah yang paling terkenal di dunia internasional. Perlawanan rakyat serentak ini pertama kali terjadi tahun 1987, saat negara Arab lainnya sudah menandatangani perjanjian damai dengan Israel.

Kerusuhan pertama pecah di Kamp Pengungsian Jabalia setelah tentara Israel menembaki 4 orang pekerja asal Palestina. Esoknya, orang Palestina di Jalur Gaza mulai membunuh siapapun warga Yahudi yang mereka temuin sebagai aksi balas dendam.

Kerusuhan meluas ke Tepi Barat dan wilayah Israel dan dilakukan oleh semua fraksi nasionalis Palestina yang dipimpin oleh Palestine Liberation Organization atau PLO. Israel menurunkan 80.000 personil untuk menghancurkan perlawanan, akan tetapi kerusuhan tidak kunjung mereda dan perlawanan yang dilakukan semakin bervariasi hingga ke semua bidang: menolak membayar pajak, membuat grafiti anti-Israel, menyergap patroli dan menebar teror bom.

Intifadah Pertama resmi berakhir tahun 1993 dengan disepakatinya Perjanjian Oslo antara Israel dengan PLO. Wilayah Jalur Gaza dan Tepi Barat disatukan menjadi Otoritas Palestina, serta penarikan mundur seluruh kekuatan bersenjata Israel dari wilayah tersebut.

Masa damai ternyata tidak berlangsung lama, pada tahun 2000 masyarakat Palestina kembali menggelar intifadah setelah Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon berkunjung ke Temple Mount di Yerussalem yang dianggap sebagai sikap provokasi. Menyusul gagalnya upaya perdamaian final kedua negara, kerusuhan kembali pecah di Jalur Gaza dan Tepi Barat hingga tahun 2005.

Total sekitar 1200 lebih orang Israel dan 8000 orang Palestina tewas dalam dua intifadah tersebut.

Arab Spring: "The Intifadas"

Musim Semi Arab adalah serangkaian perlawanan rakyat yang dilakukan bersamaan di hampir semua negara anggota Liga Arab. Motif utama perlawanan adalah pemerintahan otoriter dan merajarelanya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) di antara semua rezim yang berkuasa saat itu.

Perlawanan pertama terjadi di Tunisia tahun 2010 dengan ditumbangkannya rezim Ben Ali yang sudah berkuasa sejak 1987 setahun kemudian. Demonstrasi di Tunisia membawa efek domino ke Mesir dan Libya yang sedang berada di bawah pemerintahan diktator Hosni dan Gaddhafi.

Hosni digulingkan dan dijadikan tawanan, sedangkan Gaddahafi tewas terbunuh dalam perang saudara yang juga diintervensi oleh kekuatan asing. Sementara itu di negara Suriah, Bahrain, Yaman dan sekitarnya juga aksi unjuk rasa semakin marak terjadi.

Pemerintahan Bashar Al-Assad di Suriah memerintahkan tentara dan polisi untuk melepaskan tembakan terhadap para demonstran yang berujung pada pecahnya Perang Saudara Suriah yang juga diintervensi oleh kelompok jihadis hingga negara-negara tetangganya yang terlibat proxy war.

Rumitnya permasalahan dan terpecahnya banyak kelompok dengan masing-masing kepentingan membuat Arab Spring sebagai aksi intifadah paling lama dan berdarah yang kompak terjadi di hampir seluruh tanah Arab.

Konflik yang menyertai juga memengaruhi situasi politik maupun eknomi global, serta gelombang pengungsi yang menuju Eropa maupun negara Arab yang tidak terdampak konflik. Perkiraan jumlah korban jiwa dalam peristiwa tersebut sekitar 61,080–140,000.

Sumber:

Opposition Movements in the Saudi Kingdom and their History

https://www.britannica.com/topic/intifadah

The Path to Mass Rebellion: An Analysis of Two Intifadas, Lexington Books, 2004 p.xi.

Intifada: The Palestinian Uprising Against Israeli OccupationLustick, Ian S. (1993).

Brynen, Rex; Hiltermann, Joost R.; Hudson, Michael C.; Hunter, F. Robert; Lockman, Zachary; Beinin, Joel; McDowall, David; Nassar, Jamal R.; Heacock, Roger (eds.). "Writing the Intifada: Collective Action in the Occupied Territories". World Politics. 45 (4): 560–594. doi:10.2307/2950709. ISSN 0043-8871. JSTOR 2950709.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Zemla_Intifada?wprov=sfla1Western

Sahara Between Autonomy and Intifada

https://web.archive.org/web/20150209174836/
http://www.teluguaspirant.com/arab-spring-background-causes-impact-present-situation-etc/1575/

Posting Komentar untuk "Intifadah: Sebuah Perlawanan Rakyat"