Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa Angka Perceraian Di Indonesia Tinggi?


Dalam kehidupan berkeluarga tidak semanis yang dilihat. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Pergejolakan rumah tangga menjadi taruhannya. Sebagai contoh, seorang kepala keluarga bertanggung jawab mencari nafkah atau sebaliknya seorang ibu sebagai ibu bagi keluarga sekaligus pencari nafkah (Berlaku bagi single parent).

Namun, di antara semua masalah, yang paling disoroti publik adalah 'Perceraian'.

Menurut data Badan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2018, angka perceraian Indonesia mencapai 408.202 kasus, meningkat 9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Mengapa angka perceraian di Indonesia tinggi? 

Seperti yang telah dijabarkan di bagian awal. Dalam kehidupan berkeluarga banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Mulai dari kebutuhan pangan, kebutuhan pendidikan dan lainnya. Kalaupun jika sebuah keluarga telah terpenuhi kebutuhannya, banyak hal-hal lainnya yang mengganggu kehidupan dalam berkeluarga.

Apa latar belakang utama angka perceraian di Indonesia tinggi?

1. Masalah Ekonomi

Menurut Direktur Pembinaan Tenaga Teknis Peradilan Agama Mahkamah Agung Candra Boy Seroza mengatakan penyebab tingginya angka perceraian di Indonesia adalah masalah ekonomi.

Ketidakmampuan suami dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga menjadi masalah yang cukup besar pada banyak kasus perceraian. Pada akhirnya, pihak istri pun lebih banyak yang mengambil pilihan bercerai ketika dihadapkan pada masalah tersebut. (Dilansir : https://netz.id/news/2020/02/13/00516/1005130220/setengah-juta-pasangan-indonesia-cerai-pada-2019)

2. Perselingkuhan 

Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran orang ketiga penyebab utama banyaknya perceraian. Tentunya, peristiwa setiap pasangan berbeda. Semisal; pihak suami menemukan tambatan hati baru dengan teman kerjanya atau pihak istri kembali menjalin hubungan dengan mantan pacarnya dahulu. Banyak peristiwa lainnya di lingkungan sekitar, baik itu dari media ataupun kehidupan nyata.

3. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Di antara dua faktor utama lainnya, kekerasan dalam rumah tangga yang paling banyak memakan korban. Banyak berita ataupun peristiwa yang menjadi korban adalah kaum wanita. Bahkan ada yang sampai tewas di tangan pasangannya. Terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, sebenarnya adalah akibat dari tuntutan kebutuhan yang tinggi tiap harinya. Dampaknya, kepala keluarga merupakan momok yang paling menjadi beban dan tertekan.

Dari ketiga latar belakang utama tersebut, terjadilah perceraian.

Bagaimana cara mengatasinya?

1. Saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangan

Apapun kondisi pasangan, tetaplah menerimanya apa adanya karena pasangan yang bertahan adalah pasangan yang hebat.

2. Komitmen dari awal, agar tidak ada luka yang diakhiri

Apa komitmen dari awal sebelum menikah? Apa rencananya? Apa janjinya?

Pertahankan dan jalankan.

3. Saling terbuka dan jujur kepada pasangan

Sikap terbuka dan jujur kepada pasangan membuat pasangan tersebut langgeng.

4. Saling memotivasi satu sama lain dan memuji

Satu atau dua kata bahkan lebih yang dilontarkan secara tulus, membuat pasanganmu semangat. Berilah motivasi dan pujian.

Jadi, apapun masalah dalam sebuah pasangan atau keluarga. Satu kuncinya, bertahan dan pertahankan demi putra-putrinya.

Sekian, mohon maaf bila ada kata atau kalimat yang menyinggung. Semoga bermanfaat.

Kasus :
  • https://kaltimtoday.co/kasus-perceraian-dan-pernikahan-dini-di-indonesia-meningkat-selama-pandemi-covid-19/
  • https://m.liputan6.com/global/read/4300288/jumlah-korban-kdrt-selama-pandemi-corona-covid-19-meningkat
Referensi :
  • https://edukasi.kompas.com/read/2020/04/14/113637371/angka-perceraian-meningkat-akibat-covid-19-ini-saran-akademisi-ipb?page=all

Posting Komentar untuk "Mengapa Angka Perceraian Di Indonesia Tinggi?"