Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Orang Hebat Tak Kasat Mata


Ikan Cupang

Teman saya pernah cerita, ada office boy di kantornya yang tiba-tiba memutuskan resign/berhenti kerja. Setelah ditanya, ternyata alasannya karena dia ingin fokus mengurus bisnis ikan cupangnya yang omzetnya sudah puluhan juta per bulan.

Betul-betul tidak ada yang menyangka, seseorang yang biasa disuruh-suruh di kantor untuk mengerjakan tugas receh, ternyata sebenarnya seorang wiraswastawan hebat yang sudah bertahun-tahun menggeluti bisnis ikan cupang. Dan tentu saja, jumlah uang tabungannya lebih banyak daripada karyawan-karyawan yang posisinya lebih tinggi di tempatnya bekerja.

Sopir Bus

Lalu, ada lagi teman saya yang tinggal di kawasan perumahan kota satelit di pinggiran Jakarta. Di perumahannya itu ada bis khusus yang setiap hari mengantar jemput warga yang beraktivitas di tengah kota. Dan dia cerita, bahwa salah satu bapak sopir yang kerja di bus itu aslinya memiliki beberapa rumah di dalam kompleks perumahan.

Semua anaknya sudah hidup mapan, sukses. Dan si bapak itu juga pensiunan di salah satu perusahaan BUMN dengan jabatan tinggi. Lalu kenapa sekarang jadi sopir bus ? Ternyata alasannya sederhana. Dia hanya butuh kesibukan untuk mengisi waktu luang, dan punya teman ngobrol, daripada hanya diam di rumah.

Ibu Warung Kecil

Saya juga pernah ketemu seorang ibu yang buka warung kecil di pinggir jalan, jualan makanan ringan. Padahal dia punya rumah yang besar, persis seperti rumah-rumah yang suka dipakai syuting sinetron.

Alasannya pun hampir sama dengan si bapak sopir bus. Dia buka warung supaya tetap produktif, ada pekerjaan yang bisa dilakukan, daripada hanya diam di rumah, gak ada aktifitas apa pun. Anak-anaknya juga sudah hidup mapan, tinggal terpisah, bahkan ada yang di luar negeri.

Bengkel Servis Motor

Saya pernah servis motor di bengkel kecil pinggir jalan. Betul-betul hanya berupa kios kecil, jauh dari kesan mewah. Namun pas saya lihat didalam bengkel yang sederhana itu, si bapak pemilik bengkel sekaligus jadi montir, memajang foto-foto-nya ketika sedang berada di luar negeri.

Saya iseng tanya soal foto-foto itu, dan dengan ramahnya dia cerita kalo itu adalah foto kenang-kenangannya waktu masih kerja di perusahaan otomotif besar, dan sering dapat tugas ke luar negeri.

Bapak ini pun ternyata fasih bahasa Inggris dan Jepang. Dia sekarang sudah pensiun, tapi punya istri yang masih bekerja sebagai manager, di sebuah perusahaan yang kantornya ada di Jalan Jendral Sudirman. Dan anak bungsunya juga saat ini sedang kuliah S2.

Petugas Hotel

Teman saya yang pernah tinggal di Bali karena urusan pekerjaan, juga pernah cerita kalau di sana punya banyak teman yang sehari-hari kerja jadi pramuwisata, petugas hotel, atau sopir antar jemput turis, sebetulnya banyak yang berasal dari keluarga kaya raya.

Mereka rata-rata punya sawah yang berhektar-hektar di kampung, bahkan juga punya beberapa villa yang sering disewakan untuk turis. Pilihan mereka bekerja hanyalah untuk menambah wawasan, dan meluaskan pergaulan.

Anak Muda Mahasiswa

Dan terakhir, saya sendiri juga pernah menerima seorang anak muda yang melamar jadi petugas kurir freelance di usaha saya. Ternyata dia warga keturunan, tinggalnya di perumahan elit, motornya saja lebih bagus dari punya saya.

Jujur, saya kaget waktu melihat dia pertama kali. Dari penampilannya agak meragukan kalau dia bisa kerja jadi kurir. Tapi nyatanya dia betul-betul bisa kerja kok. Gak pernah mengeluh dapat tugas antar barang yang jauh.

Juga gak pernah protes soal bayaran. Ternyata, dia sendiri bilang, mau jadi kurir cuma buat iseng-iseng aja, selama libur kuliah. Ya, dia adalah mahasiswa di perguruan tinggi swasta terkenal di Jakarta, yang sering dijuluki kampusnya orang-orang bonafid. Pernah saya iseng intip sosmednya. Ternyata dia punya orang tua yang pengusaha, dan sering liburan ke luar negeri sama keluarganya.

Hikmah & Pelajaran

Ini hanyalah sebagian cerita yang masih saya ingat, tentang orang-orang hebat yang tak kasat mata. Mereka sebetulnya punya kelebihan, punya prestasi, atau derajat sosial yang tinggi, tapi memilih tidak mau terlalu terlihat, dan lebih suka menampakkan diri sewajarnya saja, bahkan cenderung merendah.

Coba bayangkan, seberapa sering kita temui orang yang gaya bicaranya terlalu tinggi, namun kita tahu kehidupan aslinya jauh dari yang sering mereka cuap-cuapkan kepada orang lain. Seolah-olah butuh pengakuan kalau mereka adalah orang yang betulan hebat, tak peduli seberapa banyak dusta yang harus disembunyikan.

Lebih parahnya lagi, banyak juga kelompok orang yang begitu mudah menganggap rendah orang lain, hanya dilihat dari profesinya atau tampilannya saja. Bahkan, sering memperlakukan mereka secara tidak adil dan kurang manusiawi. Entah, bagaimana tanggapan mereka kalau sampai mengetahui tentang fakta-fakta yang bertolak belakang dari penilaian mereka selama ini, seperti cerita saya di atas...

Paling tidak, dari beberapa cerita saya tadi, kita bisa mengambil sedikit hikmah, bahwa jangan pernah lagi menilai seseorang dari tampilan luarnya, dari hanya yang bisa kita lihat di depan mata. Karena justru, banyak orang-orang hebat yang senang 'bersembunyi'  dalam 'topeng' kesederhanaan, hanya untuk menguji seberapa besar dan tulusnya kita, dalam menghargai sesama.

Penulis :

  • Fery Ferdyansyah Fajar

Posting Komentar untuk "Orang Hebat Tak Kasat Mata"