Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Paradox: Mengapa Emosi Bisa Terpengaruh Oleh Fiksi?


Paradox Fiksi

Serius, pernah menangis ketika menonton film? Atau ikut merasakan kesedihan pasca membaca sebuah literatur?

Tidak?

Pembohong kecil.

Baiklah. Umm, Violet Evergarder eps 10? Hachiko? Miracle in Cell no. 7? Clannad? Sigatsu wa kimi no uso? Grave of the Fireflies? Algebra Survival Guide?

Atau pernah merasa ketakutan sampai tak berani ke kamar mandi tanpa ditemani sampai berhari-hari hanya karena menonton fim horror yang bahkan tak sampai berdurasi dua jam? Mesti pernah.

Jika pemerannya adalah manusia, itu masih cukup masuk akal. Tapi, uhuk, ini lho, kartun. Jelas-jelas kita tahu itu adalah fiksi buatan manusia; tetapi, kenapa kita masih terpengaruh secara emosi ketika tenggelam ke dalamnya padahal kita tahu itu tidak nyata adanya?

Pendahuluan

Pada tahun 1975, filsuf Colin Radford dan Michael Weston menulis sebuah artikel berjudul How Can We be Moved by the Fate of Anna Karenina? (yang merujuk kepada karakter dalam novel Leo Tolstoy). Dalam artikel itu, Radford berpendapat bahwa respons emosional terhadap karya fiksi itu sungguh irasional dan tidak masuk akal, yang dalam perkembangan selanjutnya, dia sebut sebagai paradoks fiksi.

Tetapi, apakah ia memang benar setidakrasional itu?

Premis Argumen

Mari kita mulai dengan menyajikan premis argumen Colin Radford. Saya menyalinnya (dan membahasakannya, semoga, semoga yang paling tulus, bisa dipahami);

  1. Agar dapat digerakkan secara rasional (menangis, marah, ngeri) oleh situasi fiksi, kita harus percaya bahwa fiksi tersebut benar-benar ada atau sebelumnya pernah ada.
  2. Tidak ada orang yang menganggap karakter atau peristiwa sebagai fiksi pada saat yang sama percaya bahwa itu nyata.
  3. Karakter dan situasi fiksi memang tampak mampu menggerakkan kita pada waktu-waktu tertentu.

Dan konklusi yang didapatkan Radford dari premis-premis ini adalah;

Pengaruh yang kita dapatkan dari situasi fiksi ketika kita tahu bahwa itu fiksi adalah sesuatu yang irasional.

Teori Sanggahan

Setelah membahas premis-premis yang ditawarkan, kita berasumsi bahwa salah satu atau lebih premisnya sudah pasti salah, atas dasar ketiganya tak mungkin benar.

Ketika premis pertama; Agar dapat digerakkan secara rasional (menangis, marah, ngeri) oleh situasi fiksi, kita harus percaya bahwa fiksi tersebut benar-benar ada atau sebelumnya pernah ada, tertolak, terbitlah apa yang disebut sebagai teori pemikiran. Penggagasnya antara lain  Peter Lamarque, Noël Carroll, dan Robert J. Yanal.

Teori pemikiran mengklaim bahwa kita dapat memiliki emosi asli dari berbagai hal bahkan jika kita tidak percaya mereka ada.

Ini berkaitan erat dengan emosi dasar seperti empati. Semacam, kita berempati atas kemalangan, bahkan meskipun kita tak tahu siapa yang mendapatkannya atau apakah kemalangan itu nyata adanya.

Teori kedua adalah ilusi atau teori realis, dari Alan Paskow.

Teori ilusi menyangkal premis kedua (Tidak ada orang yang menganggap karakter atau peristiwa sebagai fiksi pada saat yang sama percaya bahwa itu nyata.) dan mengklaim bahwa, dengan cara tertentu, menganggap bahwa karakter fiksi itu nyata. Teori ini melibatkan "penangguhan ketidakpercayaan" yang  percaya pada fiksi sambil terlibat dengannya.

Dan yang terakhir adalah teori pura-pura atau simulasi, yang dikemukakan oleh Kendall Walton dalam makalah Fearing Fiction (1978).

Teori pura-pura menyangkal premis ketiga (Karakter dan situasi fiksi memang tampak mampu menggerakkan kita pada waktu-waktu tertentu), bahwa orang memiliki respons emosional terhadap hal-hal fiktif. Teori ini berpendapat bahwa kita tidak mengalami emosi nyata dengan fiksi melainkan hanya mengalami emosi semu yang kita bayangkan sebagai emosi nyata. Misalnya, ketika menonton film horor di mana monster membuat serangan ke arah penonton (ke arah kamera), penonton dapat terkejut tetapi tidak benar-benar takut akan kehilangan nyawanya.

Pandangan Walton mengambil asumsi bahwa orang yang mengalami emosi asli terhadap "entitas" harus percaya bahwa entitas tersebut ada dan memiliki fitur sedemikian rupa sehingga emosi dijamin sebagai emosi yang nyata. Sebagai contoh, jika seseorang ingin menunjukkan rasa takut terhadap suatu entitas, seseorang harus yakin bahwa entitas itu ada dan memiliki fitur seperti berbahaya, yang menjamin emosi ketakutan. Namun, karena orang yang mengonsumsi fiksi biasanya tidak percaya pada keberadaan atau kejadian fiktif yang asli, orang tidak dapat merasakan emosi yang asli.

Begitulah.

Menurut anda, manakah kemungkinan yang paling tepat?

Apakah karena kita percaya bahwa karakter fiksi itu nyata, ataukah emosi yang kita rasakan hanya emosi pura-pura, atau kita tahu itu memang fiksi tetapi emosi kita tetap nyata?

Referensi dan bacaan lebih jauh

  • Paskow, Alan (2004). The Paradoxes of Art : A phenomenological investigation. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Radford, Colin; Weston, Michael (January 1975). "How can we be moved by the fate of Anna Karenina?". Proceedings of the Aristotelian Society, Supplementary Volumes.
  • Schneider, Steven. "The Paradox of Fiction". Internet Encyclopedia of Philosophy.
  • Radford, Colin; Weston, Michael (1975). "How Can We be Moved by the Fate of Anna Karenina?". Proceedings of the Aristotelian Society, Supplementary Volumes.
  • Konrad, Eva-Maria; Petraschka, Thomas; Werner, Christiana (2018-09-15). "The Paradox of Fiction – A Brief Introduction into Recent Developments, Open Questions, and Current Areas of Research, including a Comprehensive Bibliography from 1975 to 2018.
  • Stecker, R. (2011). "Should We Still Care about the Paradox of Fiction?". The British Journal of Aesthetics.
  • Stock, Kathleen (August 2006). "Thoughts on the 'Paradox' of Fiction". Postgraduate Journal of Aesthetics.
  • Podgorski, Daniel (November 13, 2015). "Why Stories Make Us Feel: Colin Radford's So-called "Paradox of Fiction" and How Art Prompts Human Emotion". The Gemsbok. Your Friday Phil.

Posting Komentar untuk "Paradox: Mengapa Emosi Bisa Terpengaruh Oleh Fiksi?"