Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa Itu Toxic Masculinity?


Pertama, mari pahami dulu mengenai norma sosial. Norma sosial adalah sebuah standar sosial atau ekspektasi tidak terlihat yang diikuti agar seseorang dapat merasa diterima dalam situasi yang diberikan, dan membuat kita merasa tidak nyaman ketika kita tidak melakukan norma - norma tersebut. Contohnya seperti laki - laki tidak boleh menangis, nah contoh seperti ini disebut Toxic masculinity. 

Toxic masculinity bisa disebut sebagai norma "bagaimana seorang pria seharusnya berperilaku dan itu berdampak negatif."

Toxic masculinity itu deskripsi 'sempit' mengenai kejantanan. Biasanya, cara pandang yang sempit ini menganggap bahwa laki-laki harus mengambil peran yang dominan (atau disebut juga “alpha male”), kuat secara fisik, tidak boleh mengekspresikan perasaan sedih secara terbuka, lihai dalam hal-hal seksual, dan seterusnya.

Hal ini terjadi karena hal - hal kasar sering dikaitkan dengan laki - laki, seperti laki - laki itu tenaganya harus kuat fisiknya, beberapa laki - laki memang dilahirkan dengan tenaga yang kuat, tapi beberapa lagi ngga, contohnya aku yang bahkan sampai usia 17 tahun ini masih kesusahan agar bisa push up sampai 10 kali. Dan sering diejek banci juga dulu karena ga bisa main bola. Laki - laki juga manusia dan ngga semua diberi tenaga atau keahlian yang sama.

Kemudian mengenai "laki - laki tidak boleh mengekspresikan perasaan sedihnya secara terbuka." Laki - laki yang menangis atau mengakui kelemahan atau kesalahan biasanya akan diejek "tidak manly", hal ini membuat beberapa laki - laki dilema ketika berhadapan dengan isu kesehatan mental, mereka bingung apakah mau mencari bantuan dan melawan norma kemudian diejek laki - laki lain atau diam saja menghadapi masalahnya. 

Dan ada norma maskulin yang mendorong laki - laki untuk memamerkan seberapa banyak perempuan yang pernah dia kencani atau kalau di negara barat mungkin bisa dihitung dari berapa banyak perempuan yang pernah dia tiduri. Norma ini rasanya terdengar seperti membuat gagasan kalau perempuan adalah objek yang harus dikuasai. 

Contoh lainnya adalah berpenampilan rapi, aku masih ingat dulu sering diejek "cupu" karena gaya berpakaianku yang terlalu rapih, disana aku bingung karena aku cuma menuruti peraturan sekolah, dan dibilang cupu? Aneh.

Dampak negatif lain dari Toxic Masculinity adalah pembulian terhadap laki - laki yang memiliki sifat atau gestur agak feminin. 

Dampaknya beberapa laki - laki ada yang sampai depresi karena merasa tidak cukup atau ngga bisa jadi diri sendiri.

Sekali lagi, ngga semua laki - laki sama, ada yang lembut, ada yang macho, ada yang lemah, ada yang kurus, dan semua itu bukan kesalahan dan kita ngga berhak menghakimi mereka. 

Ini adalah salah satu pelajaran mengenai memanusiakan manusia, dimana kita tidak mengadili tapi saling menghargai dan menghormati. 

Menurutku laki - laki dan perempuan bebas mengekspresikan diri mereka, itu sebabnya mereka diberi perasaan. Kalau kata ibuku jadi laki - laki ga harus ikut norma kayak gitu atau sesuai standar masyarakat, yang penting setia sama satu perempuan dan bertanggung jawab.

Terima kasih sudah membaca.

Posting Komentar untuk "Apa Itu Toxic Masculinity?"