Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apakah Kamu Beneran Bahagia?


Kamu bahagia atau kamu hanya berusaha menunjukkan pada dunia bahwa kamu bahagia?

Masyarakat menganggap kebahagian sebagai sesuatu hal yang harus terlihat dan diungkapkan dalam pola-pola tertentu.

Kebahagiaan begitu tergantung pada definisi masyarakat daripada definisi kamu sendiri.

Contohnya:

Seseorang yang duduk bersama sekelompok teman-temannya, berbagi makanan, tertawa bersama akan dianggap bahagia. Daripada seseorang yang duduk sendirian lalu makan sendiri, dia akan dianggap orang yang kesepian dan menyedihkan. Padahal kebahagiannya datang saat menikmati makanan dengan ketenangan.

Atau orang yang menghabiskan liburannya di kamar, menghabiskan banyak minuman berasa seperti kopi  dan membaca beberapa buku, dia akan dianggap membosankan dan menyedihkan karena tidak melihat dunia. Padahal kebahagiannya berasal dari kalimat-kalimat buku yang ia baca, sebuah kisah baru yang dia ketahui. Rasa bahagianya sama dengan kebahagiaan temannya yang memposting foto liburan ke pantai.

Perilaku mereka tidak cocok dengan bagaimana masyarakat mendefinisikan kebahagiaan.

Film, media, sosmed, sering memamerkan bahwa orang-orang yang bekerja keras siang dan malam tetapi tetap tidak melakukan apa-apa selain bekerja digambarkan sebagai orang-orang yang tidak bahagia yang tidak menghargai kehidupan. "Ayo jangan nolep terus! mari kita terjung payung" atau "Ayolah suram amat kerja terus, mari berenang!"

Apa yang membuat kamu menyimpulkan bahwa orang lain tidak bahagia?

Bagaimana kamu memutuskan sesuatu sebagai resep kebahagiaan orang lain?

Misalnya, pekerjaanmu adalah buruh lepas sementara tetanggamu pekerja kantoran. Orang-orang melihatmu sebagai orang yang hidup susah, tidak bahagia, dan kurang berkecukupan. Padahal mereka tidak tau jika kamu sudah mencoba untuk melanjutkan pendidikan kuliah, namun kamu keluar karena kuliah membuatmu tertekan. Padahal kamu sudah bahagia menjadi seorang buruh lepas. Padahal kamu sudah bahagia karena tidak terpapar gaya hidup temanmu yang mewah, karena lingkunganmu begitu apa adanya sehingga kamu bisa menabung lebih banyak. Kamu bahagia dengan hidup sederhana saja.

Kasus lainnya, katakanlah sabtu ini kamu pulang kerja. Rekan kerjamu mengajakmu untuk "menikmati hidup" dengan mengajak kamu ke tempat karoke di dekat sana juga ada restoran masakan Thailand. Kamu akhirnya tidak enak menolak tapi tetap ikut dengan rekanmu, padahal kamu tidak suka musik keras, kamu tidak suka makanan Thailand, kamu juga ingin menyimpan uang untuk membeli game kesukaanmu.

Namun, kamu tetap ikut duduk bersama mereka di tempat karoke. Kamu diam-diam mulai merasa kesal karena sudah membuang waktu dan uang di tempat yang tidak kamu minati. Dengan demikian, kebahagianmu tidak meningkat dengan standar mereka.

Kamu ingin bahagia karena kamu ingin menyesuaikan diri saja dengan standar masyarakat.
Coba pikirkan lagi, apakah kebahagianmu nyata?

Posting Komentar untuk "Apakah Kamu Beneran Bahagia?"