Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Rasanya Mati?

Bagaimana Rasanya Mati?


Pernahkah kalian memikirkan Bagaimana Rasanya Mati? - Memadamkan lampu sebelum tidur, berbaring di kasur menatap langit-langit, lalu berpikir sejenak sebelum memejamkan mata..
‘Bagaimana kalau aku mati esok?’
‘Bagaimana kalau mataku akan selalu memandang kegelapan?’
‘Bagaimana kalau jeritanku tak pernah terdengar oleh orang lain?’
‘Aku takut’
‘Takut menutup mata’
‘Takut menjerit’
‘Takut menghadapi kematian seperti ini’
‘Namun, bagaimana jika esok adalah waktunya? Waktu ajalku dipanggil’
‘Sekali lagi, Aku takut’
Kira-kira begitulah pikiran yang pernah terlintas dalam benak kita, kita takut akan menghadapi kematian.

Membayangkan kematian adalah hal yang paling menakutkan bagi sebagian banyak orang. Tak apa. Rasa takut adalah hal alamiah yang dimiliki manusia. Itu normal. Namun, jangan sampai rasa ini selalu menghantui hidup kita, selalu mengganggu hidup kita, sampai-sampai menyebabkan kita mengalami overthink dan depresi.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Ini adalah satu pertanyaan klise

Setiap hal yang belum bisa kita selesaikan, bahkan belum kita hadapi sekalipun. Kita sering bertanya, “apa yang harus dilakukan?” agaknya kalau dipikir terkesan lucu. Jalani saja yang biasanya kamu lakukan sehari-hari. Bermain game, membaca buku, mengobrol dengan kawan, lakukanlah hal-hal seperti itu.

Namun, bagaimana kalau rasa takut itu muncul dalam keadaan sendirian? Dalam kesepian? Dalam kesunyian? Tenangkanlah pikiranmu, kontrol emosimu, pikirkan hal-hal tadi, hal baik yang telah kau lakukan, bersama temanmu, bersama kawan lamamu, bersama orangtuamu.

Namun, ‘seharian aku tak melakukan itu semua dengan mereka, aku hanya menjalani kesendirian, kesendirian yang sepi dan sunyi. Bagaimana bisa aku memikirkannya?’ Maka pikirkanlah hal baik yang pernah kau lakukan kepada dirimu dan orang lain, seperti memberi makan kucing, menolong lansia menyeberang jalan, mengucap terima kasih dan ingatlah satu hal bersyukur atas dirimu sendiri.

Kau telah melewati ini semua dalam keadaan sehat tanpa cacat. Banyak orang diluar sana yang berhenti menjalani hidup karena hal-hal ini, ia takut, takut menjalani kehidupan yang serba pelik ini, hingga akhirnya ia terkenang abadi di alam sana. Dan ia pun memiliki kesamaan dengan kita; takut akan kematian.

Bersyukurlah.

Terima kasih karena telah sampai sejauh ini.

Teruslah hidup dan lakukanlah hal-hal baik.

Jadilah baik-baik saja walaupun (mungkin) kita tidak akan pernah merasa baik-baik saja.

PENYEMANGAT

Berbagilah dan lakukanlah selalu kebaikan selama yang kau bisa.
Semoga kita diberikan ketabahan dan kepercayaan diri untuk melakukan hal-hal baik, yang akan menuntun kita kepada kesuksesan di kemudian hari.

Posting Komentar untuk "Bagaimana Rasanya Mati?"