Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kebanyakan Sekolah Mengubah Kegagalan Menjadi Sesuatu yang Menyedihkan

Kebanyakan Sekolah Mengubah Kegagalan Menjadi Sesuatu yang Menyedihkan

Kegagalan adalah suatu hal yang bagus dalam proses pembelajaran. Tetapi kebanyakan sekolah bekerja keras untuk mengubah kegagalan menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.

Sekolah mendorong kebencian terhadap kegagalan, daripada membantu siswa memahami bahwa kegagalan meskipun tidak menyenangkan dapat menjadi proses pembelajaran yang berguna.

Begitu peringkat ada, kita peduli tentang hal itu. 

Nilai paling besar, nilai paling tinggi, nilai di atas rata-rata.
Jika kamu tidak mendapat nilai, maka kamu gagal. Dan kondisi ini bisa mempengaruhi status sosial kamu.

Saat nilaimu rendah. Guru bahkan orang tua tidak bilang "Mari kita lihat kok bisa nilai kamu segini, penyebabnya apa ya..", Sebaliknya orang-orang dewasa akan sangat  kecewa kepada kamu. Kamu gagal.

Ketika kita masih kecil, orang dewasa tidak memberi tahu kita bahwa kegagalan adalah bagian alami dari proses belajar. Mereka memberi tahukita bahwa kita sudah mengecewakan mereka dan diri kita sendiri. Berulang kali, selama bertahun-tahun, kita diberitahu jika kita mendapat nilai empat itu berarti kamu malas dan bodoh. Kemalasan memang adalah kegagalan moral; kebodohan dianggap bawaan.

Orang-orang yang sudah mengerti sistem ini, secepat mereka bisa, mereka menempatkan diri mereka pada posisi di mana mereka tidak akan pernah gagal lagi. (Atau di mana peluang mereka untuk gagal diusahakan sekecil mungkin.)

Menyontek, membeli kunci jawaban, memilih fokus utama yang paling mudah. "Yang penting saya tidak disebut gagal"

Belajar dari kegagalan itu penting.

Jika kamu tidak pernah atau jarang gagal, berarti kamu tidak pernah belajar bagaimana belajar dari kegagalan. Bisa jadi setiap kali kamu salah, kamu malah defensif dan menyalahkan orang lain. Orang yang jarang mengalami kegagalan akhirnya tidak tahu bagaimana menghadapi kegagalan secara efektif.

Kegagalan cenderung mengarah pada dua emosi utama: kemarahan dan rasa ingin tahu.

Sekolah cenderung mengarah ke kemarahan. Lembaga pendidikan dapat bekerja untuk mengurangi perasaan negatif  terkait dengan kegagalan.

"Bagaimana jika saya terus-menerus gagal dan gagal?" 

Sekolah dapat membantu, meski umumnya tidak bisa sepenuhnya membantu. Tetapi sekolah bisa berkata, "Ya, pertama-tama ada banyak jalan menuju sukses. Jika rencana A gagal, mari kita coba merumuskan rencana B." Bekal ini bisa membantu siswa bila mengalami skenario terburuk, sebuah institusi dapat membantu siswa belajar bagaimana mengatasinya.

Mungkin dari pembelajaran pola pikir, keterampilan, dan sesuatu yang tidak berfokus pada nilai sempurna.
Mengatasi kegagalan adalah keterampilan hidup yang sangat penting.

Posting Komentar untuk "Kebanyakan Sekolah Mengubah Kegagalan Menjadi Sesuatu yang Menyedihkan"