Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pernahkah Kamu Mempelajari Seni Membaca Wajah?

Pernahkah Kamu Mempelajari Seni Membaca Wajah?

Wajah cantik atau ganteng seseorang belum tentu menjadi jaminan bahwa dia juga memiliki sifat dan karakter positif. Siapa tahu di balik kecantikan dan ketampanannya, ternyata dia seorang perampok, pencuri, penipu, bahkan pembunuh. Sebaliknya, seorang dengan wajah yang buruk juga bukan berarti memiliki sifat dan karakter yang buruk. Dibalik keburukan rupanya, bisa jadi mereka mempunyai "hati emas".

Banyak di antara kita mencoba menampilkan wajah sebaik mungkin. Penampilan wajah yang seolah menggunakan topeng ini dimaksudkan untuk menutupi rahasia terdalam kita, atau agar tidak menampakkan emosi atau sifat asli kita.

Walaupun demikian, kita masih bisa mencoba menerka-nerka karakter orang lain dari wajah mereka. Wajah dapat memberikan banyak informasi tentang suasana hati, kesehatan, temperamen (watak atau sifat), serta status sosial.

Dalam usaha memahami sifat dan karakter orang lain, kita sering melakukan penilaian yang keliru terhadap sifat dan karakter seseorang. Untuk menghindari hal tersebut, penting untuk sedikit banyak memahami sifat dan karakter seseorang melalui pembacaan karakter wajah, atau dalam istilah ilmiah disebut fisiognomi.

Ilmu ini pertama kali disusun secara sistematis oleh Aristoteles. Beliau mempelajari dan menafsirkan berbagai sifat dan karakter manusia melalui berbagai bentuk wajah, warna rambut, anggota badan, dan suara.

Fisiognomi, yang diklaim mencari hubungan antara bentuk-bentuk wajah dengan sifat-sifat atau karakteristik-karakteristik psikologi tertentu, sering kali menemui keselarasan yang diharapkan.

Misalnya, rambut dapat memberi petunjuk bagi kita tentang kekuatan diri dan daya tahan seseorang, dahi memberi gambaran tentang pikiran dan ide atau gagasan. Pipi dapat mengungkapkan perasaan hati, hidung menunjukkan kekayaan finansial atau spiritual, sedang bibir menunjukkan sensualitas, gaya memberi dan menerima cinta, serta keintiman, dan sebagainya.

Karena fisiognomi sering digunakan sebagai ramalan, maka fisiognomi sering dihubungkan dengan ilmu astrologi. Ada suatu bukti dalam literatur-literatur klasik, termasuk dalam karya-karya Homer dan Hipokrates, bahwa fisiognomi merupakan bagian dari filsafat praktis paling kuno. Yang mana lebih bersifat deskriptif, menekankan pada sisi prediksi dan astrologi, dan bahkan sering kali bersifat ramalan atau firasat, yang dalam ilmu kejawen disebut ilmu titen, yaitu berdasarkan kebiasaan-kebiasaan masa lalu.

Nah, untuk menjadi seorang pembaca wajah yang banyak hal yang harus Kamu ketahui; bukan hanya pengetahuan tentang literatur yang terkumpul sejak berabad-abad yang lalu, tetapi juga pengetahuan tentang kejiwaan seseorang (psikologi) dan berbagai ciri wajah yang berkaitan dengan budaya, daerah, dan karakter seseorang. Karenanya, keakuratan hasil pembacaan  sangat bergantung pada kepandaian Kamu membaca wajah, pendidikan, masa lalu dari kehidupan, lingkungan, dan budaya atau tradisi.

Sumber :

  • Willis, A. E. The human face :come, view the face and see the soul engraved upon a living scroll. Chicago : A.E. Willis, 1884.
  • Sizer, Nelson. How to teach according to temperament and mental development, or, Phrenology in the school-room and the family. New York : S.R. Wells, 1877.
  • Simms, Joseph. Human faces, what they mean!how to read personal character. New York, Murray Hill Publishing Company, 1887.

Posting Komentar untuk "Pernahkah Kamu Mempelajari Seni Membaca Wajah?"