Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Black September: Sisi Gelap Dari Palestina

Sejarah Black September: Sisi Gelap Dari Palestina

Jika kita membaca sejarah Israel-Palestina secara runtut, objektif, dan mendetail, maka kita bisa menyimpulkan bahwa konflik Israel-Palestina adalah konflik politik berkedok suku dan agama yang akhirnya berujung ke krisis kemanusiaan.

Sebagai konflik politik maka pemerannya baik Israel-Palestina bersifat abu-abu, memiliki sisi cerah dan sisi gelap. Tetapi jangan salah, berdasarkan situasi sekarang sudah jelas bahwa Israel merupakan penjajah dan Palestina adalah korban.

Krisis ini harus diselesaikan dan perdamaian harus tercapai. Tetapi dari sudut pandang sejarah, benarkah Palestina selalu menjadi korban? ataukah orang Palestina hanyalah manusia biasa yang bisa berbuat kesalahan? yang mana kesalahan yang mereka lakukan sangat fatal?

Sekarang saya beberkan fakta terlebih dahulu :
  1. Palestina diakui oleh 138 dari 193 anggota PBB
  2. Israel diakui oleh 162 dari 193 anggota PBB
Dapat disimpulkan bahwa mengakui Israel bukan berarti anti-Palestina dan sebaliknya. Kita ambil contoh Turki. Dalam media Turki sangat anti-Israel tetapi Israel punya kedubes di Turki, dan sebaliknya Turki punya kedubes di Israel. Kedubes adalah tanda bahwa kalian saling mengakui negara masing2.

Tahun 1948, Israel mendeklarasikan kemerdekaannya dari Inggris. Inggris saat itu sudah membagi wilayah yang diperuntukkan untuk Yahudi dan untuk Arab. Inggris-pun pergi, kemudian koalisi negara Arab masuk dan menyerbu Israel.

Koalisi Arab gagal total, Israel berhasil mempertahankan wilayah pemberian Inggris ditambah 60% wilayah yang seharusnya milik Palestina. 700.000 rakyat Palestina kemudian diusir dari tanahnya dalam peristiwa An-Nakba.

Daerah yang tidak jatuh ke tangan Israel kemudian kita sebut dengan nama Tepi Barat (dikuasai Yordania) dan Gaza (dikuasai Mesir). Tepi Barat dan Kota Yerusalem kemudian dianeksasi oleh Yordania dan menjadi bagian dari negaranya.

Penduduk disitu diberi kewarganegaraan Yordania. Tetapi aneksasi ini dianggap ilegal dan hanya diakui oleh Inggris dan Irak. Dua pertiga warga negara Yordania adalah orang Palestina. Orang Palestina menjadi mayoritas di Yordania dan berpengaruh di pemerintahan.

Rakyat Palestina yang diusir dari Israel kemudian membentuk gerakan fedayeen tahun 1950an, gerakan ini adalah gerakan gerilya untuk menyerang Israel. Palestina melakukan penyerangan ke Israel dan dibalas oleh Israel dengan menyerang Yordania.

Kita lanjutkan ke tahun 1967, Koalisi Arab berperang kembali dengan Israel. Lagi-lagi koalisi Arab gagal, Israel menguasai seluruh wilayah palestina termasuk Gaza dan Tepi Barat, ditambah Sinai milik mesir serta Golan milik Suriah. Tahun 1968, koalisi Palestina-Yordania bertempur dengan Israel di kota Karameh.

Untuk pertama kalinya, Israel yang terlihat tak terkalahkan akhirnya mundur. Fedayeen memanfaatkan kemenangan ini untuk mendapatkan dukungan dari negara lain berupa uang dan sukarelawan untuk berperang.

Kamp pengungsian Palestina seperti Wehdat dan dan Al-Hussein di Yordania dirubah menjadi negara dalam negara. Polisi Yordania tidak dapat masuk kesitu dan tentara Palestina membuat checkpoint perbatasan.

Pengungsi Palestina didalam Yordania juga menjadi semakin radikal. Misalnya menyerang polisi Yordania, berparade di ibukota Yordania Amman dengan bersenjata lengkap tanpa memperdulikan lalu lintas, dengan bebas menghentikan kendaraan penduduk layaknya seorang tentara atau polisi, bahkan hampir membunuh Raja Hussein dua kali.

George Habash mendirikan partai komunis Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) dan Neyef Hawatmeh mendirikan Democratic Front for the Liberation of Palestine (DFLP). Organisasi lainnya adalah As-Sa'iqa yang berbasis di Suriah dan Arab Liberation Front dari Irak.

Semuanya dengan frontal menyatakan akan membubarkan monarki Hasyimiyah di Yordania yang dianggap sebagai boneka bangsa Barat dan Zionis setelah Raja Hussein pergi ke Amerika untuk berdiskusi dengan Presiden Richard Nixon. Bayangkan Palestina yang diberi rumah oleh Yordania malah mengacaukan negara yang melindungi mereka.

Raja Hussein mengalami dilema, disisi lain Fedayeen didukung oleh berbagai negara muslim sedangkan disisi lain orang Palestina semakin menjadi-jadi di negaranya sendiri. Tentara Yordania sendiri menjadi semakin tidak sabar atas tindakan pengungsi Palestina yang sering memprovokasi tentara.

Genggaman pemerintah atas pengungsi Palestina semakin lama semakin lemah. 7 Juni 1970 konflik antara tentara Yordania dengan Palestina meletus. Dua hari kemudian, pasukan pengaman Raja ditembaki oleh Fedayeen.

Konflik makin memanas, tentara Yordania menembaki kamp pengungsi Wehdat dan Al-Hussein. Konflik berakhir dengan 300 orang tewas termasuk penduduk sipil Yordania. Gencatan senjata diumumkan, tetapi PFLP malah menyandera 68 orang asing di hotel Amman.

Raja Hussein berkompromi dengan memilih Abdelmunim al-Rifai yaitu keturunan Palestina sebagai perdana menteri. Media Internasional saat itu menganggap bahwa sebentar lagi Monarki Yordania akan bubar. Konflik antara tentara Palestina dan Yordania terus berlanjut di bulan Agustus.

Black September Dimulai

September 1970 dalam peristiwa yang disebut Dawson's Field hijackings, 4 pesawat sipil menuju New York dan London disandera oleh PFLP.

Satu pesawat menuju Amsterdam gagal disandera oleh Patrick Arguello, anggota partai komunis Nicaragua pro-Palestina dan anti-Amerika serta Leila Khaled anggota PFLP asli Palestina.

Keempat pesawat didaratkan di Dawson Field Yordania. Tidak ada korban dari peristiwa ini tetapi Raja Hussein kehilangan kesabarannya dan mendeklarasikan Darurat Militer.

17 September, Raja Hussein memerintahkan militer untuk menyerbu ibukota Amman dari berbagai penjuru. Mereka juga membombardir kamp pengungsi Wehdat dan Al-Hussein dengan tank dan artileri.

Tentara juga menguasai kembali kota Irbid, Jerash, Al-Salt, dan Zarqa yang dikuasai oleh Fedayeen. Negara Arab lain menyarankan Yordania untuk menghentikan konflik.

18 September, pasukan Suriah menyerbu kota Irbid dengan 300 tank untuk membantu Fedayeen. Tentara Yordania dengan gagah berani mempertahankan negara dari serangan Suriah.

Hussein mengadakan pertemuan darurat dan diputuskan bahwa Yordania membutuhkan bantuan Inggris dan Amerika.

Inggris sudah menyerah dengan masalah timur tengah sedangkan Amerika menerima request dari Yordania. Mereka mengirim angkatan laut di lautan Israel-Yordania namun tidak berpartisipasi dalam konflik.

22 September, angkatan udara Yordania berhasil memukul mundur Suriah. Angkatan Udara Israel juga beterbangan di langit Yordania untuk mempersiapkan diri andaikan Yordania bubar dan wilayahnya menjadi perebutan.

Setelah berhasil mengalahkan Suriah, Yordania mulai membombardir ibukotanya sendiri dan berakhir dengan kekalahan Palestina. Media dan Pemerintah Arab mengkritik tindakan Hussein. Raja Hussein kemudian terbang ke Kairo untuk berdamai dengan pemimpin Palestina Yasser Arafat.

Perang berakhir dengan 3.400 Palestina, 600 Suriah, dan 500 Yordania tewas. Tentara Palestina kemudian diusir ke Lebanon. Sedangkan warga sipil Palestina masih bertahan di kamp pengungsian Yordania sampai sekarang.

Semakin Radikal

Konflik tidak berhenti begitu saja, منظمة أيلول الأسود atau Black September Organization didirikan Palestina untuk membalas dendam terhadap Yordania. Perdana Menteri Yordania Wasfi Tal berhasil mereka bunuh.

Salah satu aktivitas mereka yang mendunia adalah Penyanderaan Kedubes Saudi Arabia di Sudan serta Pembantaian Olimpiade Munich tahun 1972. 11 Atlet dan pelatih Israel serta 1 polisi Jerman Barat terbunuh.

Setelah diusir ke Lebanon, Palestina berpartisipasi di Perang Saudara Lebanon tahun 1975. Karena kalah pemerintah Palestina kemudian diusir ke Tunisia.

Tahun 1988, Palestina secara resmi mendeklarasikan kemerdekaannya dipimpin Yasser Arafat.

Sumber dan Referensi :

  • https://en.wikipedia.org/wiki/Black_September
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Black_September_Organization
  • https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/9781405198073.wbierp0205
  • https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/13698240802168015?journalCode=fciv20

Posting Komentar untuk "Sejarah Black September: Sisi Gelap Dari Palestina"